Traveling Diary
  • Home
  • About
  • Travel Destination
  • Food & Culture
  • Life Stories
  • Thought & Tips
  • Contact

 

    Belitung has been on my bucket list since a long time ago, bisa menginjakan kaki disini adalah sebuah pencapaian yang benar-benar mengharukan untukku. Aku masih ingat, Ineu usia 15 tahun akhirnya punya cita-cita setelah menonton film Laskar Pelangi dan membaca novelnya. Saat aku kecil, aku selalu bingung jika ada orang yang bertanya “cita-cita kamu mau jadi apa?”. Film yang diangkat dari novel karya penulis yang akan selalu jadi penulis favoritku ini berhasil menumbuhkan rasa semangat dan membuatku berani mempunyai cita-cita.

    Bersyukur sekali bisa mencoret salah satu bucket list ini sebelum officially lulus kuliah. Saking terharunya, malah sempet nangis di hotel malem-malem hehe. Mungkin untuk sebagian orang ini bukan apa-apa, but I always work really hard for every single things that I want. So, it means a lots for me. Perjalanan ke Belitung ini akan aku bagi menjadi 5-6 artikel, terdiri dari destinasi wisata sampai kuliner. Nah, dalam artikel yang satu ini, I am gonna tell you how beautiful Pantai Tanjung Tinggi is, sebuah pantai di Belitung Barat, tempat lokasi syuting film Laskar Pelangi.


    Pantai Tanjung Tinggi terletak di Belitung Barat, jaraknya sekitar 40 menit dari Kota Tanjung Pandan. Untuk sewa motor bisa search di instagram yaa, banyak kok tempat sewa motor di Belitung dengan harga start 75K per-hari. Aku mengunjungi Pantai Tanjung Tinggi sore hari, saat sampai disana langsung disambut dengan sebuah papan tembok bertuliskan “Lokasi Syuting Film Laskar Pelangi”. Rasanya seneng, bersyukur, terharu bisa sampai disini.


    Keunikan dari pantai ini, selain airnya yang super jernih dan pasir putihnya yang halus, terdapat bebatuan besar yang menambah pemandangan semakin mempesona. Ombaknya sangat tenang dan dangkal, ramah untuk anak-anak dan siapapun untuk renang. FYI, ada watersport juga, peralatannya bisa kita sewa yaa. Kalau beruntung bisa dapet view sunset yg super cantik sebelum maghrib tiba.

    Duduk di atas batu besar sambil menikmati keindahan Pantai Tanjung Tinggi, membawaku ke memory sekian tahun lalu di Film itu. Ikal, Lintang, Mahar dan kawan-kawannya berlarian dan bermain disini, diiringi lagu paling iconic Laskar Pelangi. Warga setempat disini super ramah, banyak juga jajanan dan berbagai hidangan kuliner yang bisa pengunjung nikmati. Semoga kalian juga bisa kesini suatu hari nanti! Please keep the place clean when you visit okay.

Cheers,

Ineu Melia Febrianti


    Hi, it's been a long time tidak menyapa laman "Food and Culture". Terlalu sering menyapa laman lain, sampai lupa dengan laman yang paling unik ini hihi. Dua kali mengunjungi Lombok, rasanya masih kurang jika tidak membagikan pengalaman kulineran di Lombok dengan berbagai hidangannya yang khas dan lezat.

    Selain kaya akan destinasi wisatanya yang indah, Lombok juga memiliki menu kuliner yang beragam. Makanan khas Lombok terkenal dengan rasa pedasnya yang kaya akan bumbu melimpah. Cita rasa dalam setiap hidangannya selalu berhasil memanjakan lidah. So, apa saja sih kuliner khas Lombok? Yuk simak rekomendasi makanan khas lombok berikut ini.


Ayam Taliwang


(foto/food.detik.com)
(foto/food.detik.com)


    Siapa yang pernah mendengar makanan khas yang satu ini? Ayam taliwang adalah salah satu makanan khas Lombok yang paling terkenal dan digemari banyak orang. Ayam kampung muda diolah dengan bumbu yang melimpah, seperti cabai, bawang,  kencur, gula merah, tomat, terasi, dan kucuran jeruk limau lalu dibakar.


Sate Rembiga

(foto/jokembe.com)


    Nah, kalo makanan khas Lombok yang satu ini jadi menu favoritkuuu. Yap, it’s sate rembiga. Sate rembiga merupakan sate daging sapi yang dibumbui dengan cabai, bawang, asam jawa, gula merah, terasi, ketumbar, dan kemiri. Rasanya pedas manis dan nikmat sekali dilidah. Penjual sate rembiga selalu ramai pengunjung, karena menu yang satu ini jadi incaran banyak wisatawan.


Nasi Balap Puyung

(foto/gpriority.co.id)

    Hidangan atau makanan khas yang satu ini paling mudah ditemui di Lombok. Banyak warung ataupun rumah makan yang menyediakan menu ini. Aku berkali-kali menyicipi makanan ini saat kegiatan kerelawanan di Gili Asahan. Nasi puyung mirip dengan menu makanan di warteg pada umumnya yang dilengkapi dengan berbagai lauk pauk dalam satu piring. Biasanya nasi puyung disajikan dengan lauk ayam suwir, telur, kedelai goreng, kering kentang, sambal, dan kelapa parut.


Pelecing Kangkung

(foto/arenatani.com)


    Pertama nyoba menu yang satu ini di Lombok Utara, tepatnya di Desa Sigar Panjalin. Ibu-ibu dan anak-anak disana selalu menyuguhkan kami pelecing kangkung selama kegiatan kerelawanan. Pelecing kangkung ini terdiri dari kangkung yang direbus kemudian disajikan dengan tauge, kacang panjang, sambal tomat, kacang, dan jeruk limau. Perpaduan sayur dan sambal pedasnya luar biasa nikmat!


Sambal Beberuk Terong

(foto/correcto.co.id)

    Makanan khas lombok yang satu ini super menarik! Sambal dengan terong dan perpaduan sayuran segar lainnya. Diantaranya adalah potongan terong bulat, tomat dan kacang panjang dengan siraman sambal cabai merah yang pedas dan menggugah selera. Sambal beberuk terong cocok jadi makanan pendamping menu makanan khas lombok sebelumnya, seperti ayam taliwang dan bisa juga menjadi makanan pendamping seafood.


    Selain makanan khas di atas, Lombok masih punya banyak makanan khas lainnya. Tapi bagi kamu yang baru pertama kali mengunjungi Lombok, 5 menu makanan khas di atas highly recommended untuk dicoba!


Cheers


Ineu Melia

 


 

 

 

 

 

 

 

    Bulan Juni kemarin alhamdulillah kembali diberi kesempatan untuk menginjakan kaki di Pulau Dewata. Terimakasih Bali sudah mengundangku untuk kembali. Yap, as always ini bukan hanya tentang jalan-jalan, tapi juga volunteer-an. Kalau ditanya mau sampai kapan join kegiatan pengabdian masyarakat? Entahlah, rasanya selama masih bisa I won't stop.



    Januari lalu Bali Timur, kali ini Bali Barat! Tepatnya di Desa Tegalbadeng Barat Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana. Jaraknya sekitar satu jam dari Pelabuhan Gilimanuk dan tiga jam dari Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar. Pantai di Jembrana ombaknya tenang dengan pasir hitam, tapi tetap cantik! Kalau biasanya di Bali mayoritas masyarakatnya beragama hindu, di Desa Tegalbadeng Barat jumlahnya cukup balanced antara masyarakat hindu dan muslim. Salah satu yang selalu aku kagumkan dari Bali adalah toleransinya yang begitu indah.




    Pengabdian masyarakat kali ini fokus pada empat bidang, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lingkungan. Seluruh program kerja setiap bidang alhamdulillah berhasil terlaksana. Sangat bersyukur di pengabdian ini aku bertemu dengan orang-orang hebat dengan berbagai background daerah, pendidikan dan pekerjaan yang luar biasa sangat menginspirasi untuk terus belajar, tumbuh dan menebar manfaat. Ada dokter, dosen, penerima beasiswa LPDP luar negeri, pembisnis, traveler bahkan ada anak SMA yang masih usia enam belas tahun berhasil memberanikan diri untuk berkontribusi dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kami saling sharing banyak hal satu sama lain, and of course banyak sekali pengatahuan baru yang aku dapatkan.






    Satu minggu disini rasanya berlalu begitu cepat, kalau ditanya apa yang membedakan kegiatan pengabdian ini dengan pengabdian sebelumnya? Pengabdian ini mungkin paling banyak canda tawanya hahaha. Entahlah tingkah laku dan jokes-jokes mereka berhasil menghibur dan auto susah berhenti ketawa. Ditambah berbagai macam karakter dan kepribadian yang berbeda-beda dan unik dari setiap individu.



    Last but not least, penduduk disini super ramah! Kepala dan perangkat desa serta masyarakatnya sangat menyambut kami dengan baik. Masakan ibu tempat kami makanpun luar biasa enak! Dijamin nambah dan ketagihan hihihi. Terimakasih bapak ibu semua!






    Momen malam keakraban dan perpisahan jadi momen paling emosional, kita saling mengungkapkan kesan, pesan dan harapan untuk masa depan. Diakhiri dengan pelepasan lampion yang cantik dan menambah suasana malam menjadi lebih hangat dan mengesankan. Sayangnya besok harinya aku dan salah satu volunteer Kak Mei harus pulang duluan karena jadwal flight kami sore. Sedangkan yang lain memutuskan pulang malam atau keesokan harinya. Aku cukup kuat nahan air mata hihi walaupun akhirnya tumpah juga, tapi sebagian dari mereka malah gak bisa nahan sama sekali. Aaaaaa thank you guys so much! I'm so lucky to be a part of this team! Banyak banget hal baru yang aku dapet and I'm absolutely sure semua ini akan sangat bermanfaat untuk hari ini dan kemudian hari. Till we meet again <3


Cheers, Ineu Melia.






Newer Posts Older Posts Home

About Me

Assalamualikum. Hi Everyone! Welcome to the online journal "Traveling Diary". I am Ineu Melia, a girl who loves to travel and share her experiences. Aku sangat berharap, semoga blog ini bermanfaat dan bisa menginspirasi siapapun to see this beautiful world. So, enjoy guys! Thanks for visiting my travel blog.

Subscribe & Follow

Popular Posts

  • Pulau Pari dan Peran Perempuan di Dalamnya
  • PLACE TO VISIT IN BATU KARAS (House of Sawah, Kedai Mini and Le Pari)
  • STREET FOOD DI KAMPUNG INGGRIS PARE KEDIRI
  • PENANGKARAN BIOTA LAUT DI BALI VAN JAVA
  • Matahari Terbit di Pulau Kenawa, Bagaimana Cara Menuju ke sana?

Categories

  • Food & Culture 7
  • Life Stories 14
  • Thought & Tips 10
  • Travel Destination 50

Contact Form

Name

Email *

Message *

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  April (1)
      • Ngopi dan Nongkrong di Kong Djie Coffe, Warkop Ter...
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2024 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2023 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2022 (19)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (17)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2020 (20)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (4)
    • ►  August (6)
    • ►  July (4)
Powered by Blogger.

ineumeliaf_

Blog Styling By Yanikmatilah Saja | Theme by OddThemes.

COPYRIGHT © 2020 Ineu Melia | Styling by Yanikmatilahsaja